Secarik Kisah Dari Ujung Jakarta
Perkenalkan,
nama saya Adiestian Saputra. Saya merupakan salah satu dari 30 besar finalis
Pertukaran Pemuda Antar Negara Provinsi DKI Jakarta (PPAN-DKI Jakarta) yang
berasal dari Kotamadya Jakarta Utara. Sebagai salah satu finalis, saya
berkesempatan untuk mengikuti program live
in yang diadakan oleh Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi DKI Jakarta
(PCMI-DKI Jakarta). Dari program tersebut, saya memiliki kisah yang unik dan menarik
dari ujung kota Jakarta. Saya dan seluruh finalis PPAN DKI Jakarta mengikuti
program tersebut di Yayasan Puteri Kasih “Rumah Kerang” yang berada di daerah Cilincing,
Jakarta Utara. Di sana, saya sendiri di tempatkan di daerah Kampung Nelayan
yang tak jauh dari Rumah Kerang. Selama program berlangsung, saya dititipkan ke
keluarga Bapak Oman dan Ibu Bayinah di istananya yang terletak tepat di pinggir
laut bernama Gang Buntu. Program tersebut berlangsung dari tanggal 3 Mei 2017
s.d. 7 Mei 2017 dan selama 5 hari berturut-turut saya menjadi anak angkat dari
Bapak Oman dan Bu Bayinah.
Saya
akan bercerita dimulai dari perkenalan anggota keluarga inti terlebih dahulu.
Di rumah tempat tinggal orang tua angkat saya dihuni oleh 6 orang. Ayah angkat
saya berprofesi adalah seorang nelayan kerang kijing dan profesi ibu angkat
saya adalah seorang ibu rumah tangga yang merangkap menjadi pengupas kerang
kijing. Di sana, saya diterima dengan sangat hangat seperti anak mereka sendiri
sehingga terkadang saya hampir lupa kalau mereka adalah hanya sebagai orang tua
angkat saya selama lima hari. Bapak Oman dan Ibu Bayinah memiliki 3 orang anak
yang bernama Fatma, Dina, dan Azriel. Fatma merupakan putri pertama sedangkan
Dina merupakan putri kedua. Azriel merupakan putra pertama sekaligus anak
terakhir di keluarga angkat saya. Ada satu putri lagi yang belum disebutkan
tetapi sebenarnya dia adalah anak dari adik perempuan Ibu Bayinah yang diurus
oleh Ibu Bayinah dari sejak lahir yang bernama Syifa. Kedekatan Syifa dan Ibu
Bayinah layaknya anak dan ibu kandung karena ibu kandungnya sendiri tidak
mengurus Syifa secara langsung melainkan hanya mendukung secara finansial saja.
Walaupun
status Syifa adalah sebagai keponakan dari Ibu Bayinah, tetapi Ibu Bayinah
mengurus Syifa layaknya anak kandungnya sendiri dan tidak membeda-bedakannya
dengan anaknya yang lain. Di rumah, ada satu orang lagi yang belum disebutkan
yaitu Rahmad. Rahmad adalah kakak dari Syifa yang berumur 23 tahun dan
berpofesi sebagai nelayan di mana membantu Bapak Oman melaut setiap hari. Rumah
yang saya tinggali dibangun di atas reklamasi buatan warga setempat yang
terbuat dari tumpukan kulit kerang kijing. Kulit kerang tersebut tidak dibuang
ke TPA melainkan dibiarkan menumpuk sehingga menjadi lahan baru untuk dibangun permukiman
tambahan. Rumah yang saya tempati terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur
bawah, 1 dapur, 1 kamar mandi, dan 1 kamar tidur atas. Saya sendiri tidur di
kamar tidur atas karena jika tidur di bawah hawanya terasa panas dan lembab. Rumah
tersebut dibangun semi permanen di mana terbuat dari batako, kayu, dan bambu.
Lingkungan yang saya tempati merupakan lingkungan padat penduduk tapi terasa
tidak begitu padat karena memiliki sirkulasi yang baik dan jarak antar rumah
yang cukup lega.
Gang
Buntu merupakan kawasan pinggir laut Kampung Nelayan yang bersebelahan dengan
Krematorium umat Hindu dan Buddha. Hampir setiap hari ada orang yang beribadah
untuk leluhurnya di pinggir laut Kampung Nelayan. Ada pula kapal kecil yang
dipesan oleh salah satu umat Buddha yang dibuat oleh nelayan untuk keperluan
melarung abu di Teluk Jakarta. Hidup di lingkungan sini penuh dengan toleransi
dan saling mengerti antar umat beragama karena Kampung Nelayan sendiri
merupakan tempat tinggal bagi mayoritas umat muslim. Saya memiliki tempat
favorit untuk melepas penat selepas melaut bersama ayah angkat saya yaitu di
pelataran Krematorium yang berada tak jauh dari tempat saya tinggal. Hawa siang
hari di sana terasa begitu sejuk walaupun matahari nampak terik sehingga cocok
untuk melepas penat sejenak sembari mengobrol untuk mengenal satu sama lain. Di
tempat Krematorium pula menjadi titik bertemu saya dan seluruh teman-teman
finalis untuk bercengkrama bersama anak-anak dari warga sekitar di waktu luang
kami. Kami berbaur dengan warga sekitar dengan tujuan untuk mengenal pribadi
antarsesama dan menjadi ajang untuk memahami kondisi mereka sehari-hari.
Kegiatan
sehari-hari saya umumnya saya habiskan dengan keluarga angkat saya. Pada hari
pertama, saya dikenali oleh tetangga sekitar oleh Ibu Bayinah. Tetangga sekitar
saya ternyata adalah keluarga dari Ibu Bayinah juga. Salah satu teman saya,
Firli, ternyata tinggal tak jauh dari saya. Ibu angkat Firli merupakan mertua
dari Ibu Bayinah. Bisa dibilang, Firli merupakan keluarga saya juga karena
status kami berdua masih dalam satu silsilah keluarga angkat yang sama. Hampir
setiap hari saya ikut melaut bersama Bapak Oman. Profesi melaut yang dijalankan
oleh ayah angkat saya telah dijalani selama bertahun-tahun dengan dibantu oleh
keponakannya sendiri, Aa Rahmad. Di laut, saya ikut membantu ayah angkat saya
dan keponakannya. Mulai dari mempersiapkan alat melaut, membantu mengangkat jaring,
membersihkan kotoran yang menempel di kulit kerang kijing, hingga menimba air
laut yang masuk ke dalam perahu kecil milik ayah angkat saya. Sebenarnya, Bapak
Oman memiliki dua buah perahu yang satu berukuran sedang dan yang satu lagi
berukuran kecil. Sayangnya, perahu yang berukuran sedang mengalami kerusakan di
bagian mesin sehingga tidak bisa digunakan untuk melaut.
Selama proses melaut, rata-rata kami
mendapatkan 5-6 karung beras berukuran besar yang dipenuhi oleh kerang kijing.
Tak jarang pula kami mendapatkan hasil laut lain berupa ikan, tiram, kepiting,
dan lobster. Peralatan melaut milik ayah angkat saya terbilang sangat sederhana
mulai dari kebutuhan makan untuk kami, solar 10 liter per hari, selang udara
untuk menyelam, kacamata menyelam, jaring sebesar ember, dan tentunya alat
untuk mencongkel kerang kijing yang menempel pada dinding-dinding kapal baik
yang karam maupun yang telah lama parkir. Lama proses melaut ada di kisiran 5-6
jam. Umumnya, kami berangkat melaut pada pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul
13.00 WIB. Di laut, Bapak Angkat saya tak jarang membantu sesama nelayan
apabila ada yang mengalami kendala. Kendala tersebut berupa mesin yang mati
karena kehabisan bensin dan alat pancing yang terbawa oleh ikan-ikan berukuran
sedang. Ayah angkat saya memiliki sifat mulia di mana dia selalu menolong orang
tanpa pamrih dan rela untuk memberikan sedikit waktunya untuk membantu terhadap
sesama. Saya juga mendapatkan pengetahuan yang selama ini tidak diberikan di
sekolah yaitu pelajaran hidup yang diberikan oleh Bapak Oman dan Aa Rahmad
selama proses melaut. Pengetahuan tersebut berupa kiat-kiat untuk memegang ikan
yang benar agar tidak terkena racun, menangkap lobster, dan proses menangkap
kerang kijing.
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan
di atas perahu selama melaut. Kegiatan tersebut tak lain adalah menangkap
kerang kijing, membersihkan kotoran yang menempel pada kulit kerang,
memasukkannya ke dalam karung beras, dan membersihkan perahu seperti sedia kala.
Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan bertahap sesuai dengan pembagian
tugasnya masing-masing. Selama melaut, saya terkadang mengalami kepanasan yang
berlebihan sehingga memaksa saya untuk berteduh di kapal besar dengan cara
meminta izin terlebih dahulu dan kemudian setelah diizinkan saya memanjat ke
dek kapal dengan memijakan kaki pada ban bekas truk kontener. Ini merupakan
pengalaman yang unik dan menarik yang saya lalui selama proses melaut. Bapak
Oman melaut tak menentu melainkan pergi ke mana saja dia ingin mencari rezeki.
Umumnya, Bapak Oman mencari disekitar kapal yang telah parkir lama dan kapal
yang sudah karam. Di sana terdapat banyak kerang kijing yang mengalami proses
panen alami dan siap untuk diambil. Dalam mencari kerang kijing bisa dibilang
susah-susah-gampang karena untuk mendapatkan kerang kijing tersebut harus
melalui proses menyelam. Apabila ada dan siap panen maka diambil dan apabila
tidak ada ataupun kerang kijing masih berukuran kecil maka urung untuk diambil.
Kegiatan selepas melaut adalah
mengupas kerang kijing yang mana telah ditunggu-tunggu oleh warga sekitar
terutama kaum ibu-ibu dan anak perempuan. Proses mengupas kerang sendiri
terbilang cukup sederhana karena dengan alat sederhana pula berupa cutter untuk membuka cangkangnya.
Setelah dikupas, kerang tersebut dijual ke pasar ikan setempat dengan harga
sekitar Rp15.000.00- per kilogram. Orang-orang yang membantu mengupas kerang
kijing diberi upah sebesar Rp50.000.00- per hari jika memang yang dihasilkan berlimpah.
Apabila hanya sedikit maka tak jarang mereka rela tak diberi upah. Sifat
gotong-royong tersebut masih dilakukan oleh warga Kampung Nelayan dan patut
dijadikan contoh bagi seluruh masyarakat Jakarta khususnya yang tinggal di
pusat-pusat kota. Selain itu, kegiatan saya selepas melaut adalah bercengkrama
dengan keluarga saya baik di rumah maupun di pelataran Krematorium. Banyak
cerita yang dilontarkan oleh orang tua angkat saya. Canda, tawa, sedih, susah,
senang, semua dicurahkan begitu saja bak air yang mengalir deras di sungai.
Saya merasa sangat bersyukur ditempatkan di keluarga Bapak Oman dan Ibu
Bayinah.
Saya juga sangat dekat dengan
adik-adik angkat saya. Tak jarang, saya bercanda dengan mereka dan bermain
bersama-sama. Azriel, adik saya yang paling kecil, paling sering memainkan
ponsel pintar milik saya. Sedangkan Fatma dan Dina juga suka memainkan ponsel
pintar milik saya hanya untuk melihat foto-foto kegiatan saya. Dari foto-foto
tersebut, saya memberikan berbagai macam wejangan untuk mereka bahwa jika
mereka ingin seperti saya di kemudian hari maka mereka harus berjuang keras
dengan cara rajin belajar dan sekolah setinggi-tingginya agar bisa mengangkat
derajat keluarga. Mereka pun sangat antusias mendengarkan cerita-cerita saya
berdasarkan foto-foto kegiatan saya seperti saat saya sedang berada di Jepang
dalam rangka pertukaran pelajar. Saudara-saudari mereka pun turut serta dalam
percakapan yang kami lakukan. Ada beberapa candaan yang masih saya ingat sampai
sekarang seperti “Kakak dari Jepang ya? Aku juga abis dari Jepang, Jejeran
Empang” atau seperti “Kakak, aku mau dong jadi kayak Kakak nanti kalo udah
gede. Aku nggak mau ngupas kerang melulu kalo udah gede”. Candaan mereka
mungkin terlihat sederhana, tapi saya merasa
sangat
terhibur dengan kekonyolan dan kepolosan mereka.
Terdapat
kegiatan lokakarya yang saya dan teman-teman kelompok 2 lakukan selama program live in berlangsung. Dalam kegiatan
tersebut, kami membagi menjadi dua sesi di mana sesi pertama adalah “Mimpiku”
dan sesi kedua adalah “Cilincing Masa Depan”. Target peserta dari kegiatan yang
kami lakukan adalah remaja Cilincing yang duduk di bangku Menengah Atas. Dalam
sesi “Mimpiku” bertujuan untuk mengetahui prioritas apa yang akan dilakukan
dalam hidup selepas lulus dari sekolah sehingga bisa menggapai mimpi dan asa
dari masing-masing individu. Sedangkan dalam sesi “Cilincing Masa Depan”
bertujuan untuk lebih mengenal daerah mereka dan memperbaiki hal-hal yang masih
menjadi kekurangan dari Cilincing itu sendiri. Tujuan utama dilakukan kegiatan
tersebut adalah untuk menentukan tujuan hidup, memfasilitasi untuk mencapainya,
berkontribusi terhadap tempat tinggalnya, dan menumbuhkan rasa percaya diri
kepada para remaja Cilincing bahwa mimpi mereka dapat diwujudkan apabila ada
usaha yang dilakukan karena usaha tak pernah mengkhianati hasil.
Dalam kegiatan lokakarya ini terjadi
arus komunikasi 2 arah yang sangat efektif karena bukan hanya mereka yang dapat
pembelajaran tetapi kami juga dapat memetik pelajaran dari mereka. Remaja
Cilincing rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah dengan lingkungan
yang terbilang cukup ekstrim dan berbahaya bagi kelangsungan hidup dan masa
depan anak-anak. Tetapi, mereka kerap mensyukuri apapun kondisinya dan mereka
bisa beradaptasi dengan lingkungan yang keras tersebut. Tidak ada yang namanya
kesedihan yang tergambar di raut wajah mereka selama proses berlangsung selain
ekspresi senang dan gembira akan keberadaan kami. Ada momen yang membuat kami
semua tersentuh di mana salah satu remaja laki-laki memberikan kesan dan pesan
selama di akhir sesi. Dia menceritakan kisah hidupnya di mana orang tuanya
tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya sehingga kakak dia terpaksa harus putus
sekolah. Tetapi, berkat kemauan keras, tekad, dan keuletan yang ada di dirinya
membuat dia bisa sekolah dengan menjadi anak asuh Suster Puteri Kasih.
Dia bercerita bahwa dia menanggung
beban hidup keluarganya sehingga dia harus bersekolah setinggi mungkin agar
kelak bisa sukses dan bisa menghidupi keluarganya. Dia bercerita sambil
menangis sesegukan yang sontak membuat kami terharu akan kejujuran yang dia
ceritakan pada kita semua. Tak ada rasa penyeselan dan kesedihan akan hidupnya
dalam rautnya selain rasa untuk berjuang hidup untuk keluarganya. Sungguh,
pengalaman yang sangat berharga yang saya dapatkan selama menjadi mentor
mereka. Semoga kelak mereka bisa menjadi orang yang sukses yang berguna bagi keluarga,
masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Semoga cerita yang dikisahkan oleh
dia bisa menginspirasi bagi kami semua dan bagi pembaca kalau kita harus
mensyukuri apapun yang tuhan berikan kepada hambanya. Saya pribadi bersyukur
atas apa yang sudah tuhan berikan kepada saya hingga saya bisa hidup enak
seperti ini, bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu, dan
difasilitasi secara lengkap oleh orang tua saya sebagai bekal saya di masa
depan.
Selama
di rumah, tak jarang ada saudara angkat saya yang mendatangi saya untuk meminta
diajarkan pekerjaan rumah yang dirasa sulit bagi mereka. Saya pun menjelaskan
secara perlahan dan menggunakan metode yang mudah dimengerti oleh mereka. Saya
menyadari bahwa mereka sebenarnya pintar-pintar. Terbukti saat saya membantu
menyelesaikan pekerjaan rumah, ternyata mereka sebenarnya paham akan konsepnya
namun belum memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mengembangkan potensi
yang ada. Tak ada henti-hentinya saya memberikan apresiasi berupa kata-kata
penggugah semangat belajar untuk mereka agar mereka terus terpacu dalam
berkompetisi di dunia nyata. Mungkin kepercayaan diri adalah salah satu
kekurangan yang ada di diri mereka. Mereka butuh lebih dari sekadar guru di
sekolah. Mereka membutuhkan apresiasi sederhana berupa pujian atas hal kecil
yang telah mereka lakukan. Dengan dipuji, hasrat keingintahuan mereka akan
suatu hal menjadi menggebu-gebu dan mendorong mereka untuk terus rajin belajar.
Pada
saat hari terakhir, kami memberikan persembahan untuk orang tua angkat kami
berupa Tari Kecak, Puisi, dan Paduan Suara dengan judul lagu “Ibu”. Sejujurnya
saya merasa terharu atas apa yang dilakukan Ibu Bayinah terhadap saya. Dia
memperlakukan saya seperti anaknya sendiri. Saat saya pulang agak larut untuk
mengikuti sesi latihan di Rumah Kerang, saya dijemput oleh Aa Rahmad karena Ibu
Bayinah khawatir akan keberadaan saya yang belum pulang ke rumah. Hal itu wajar
mengingat pada hari pertama tak terlintas di pikiran saya untuk memberikan
nomor telefon saya ke Ibu Bayinah. Pada hari-hari berikutnya pun tetap sama
saya pulang agak larut sekitar pukul 22.00 WIB. Dia tak henti-hentinya menelpon
saya dan mengirimkan saya pesan singkat “Kamu di mana? Jangan pulang
malam-malam gak bagus buat kesehatan.” Atau seperti ini “Kalo pulang hati-hati
ya kabarin Ibu. Kalo mau ke mana-mana juga wajib kabarin Ibu”. Ibu Bayinah juga
mencuci baju saya. Saya tidak pernah meminta untuk mencucikan namun dia
tiba-tiba mencuci baju saya saat saya sedang melaut. Saya kira ibu angkat
teman-teman yang lain melakukan hal yang sama, ternyata tidak.
Saya sempat mengunjungi Pulau Reklamasi yang terletak tak jauh dari tempat saya tinggal, Pulau F, di hari pertama saya. Saya mengunjungi pulau tersebut atas ajakan Ibu Bayinah. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan paling menarik karena tidak semua orang bisa menjelajahi pulau yang belum jadi seratus persen tersebut. Saat
di akhir acara saya benar-benar meneteskan air mata di sesi “Peluk Ibu Angkat”.
Air mata saya sangat pantas untuk dikeluarkan untuk Ibu Bayinah. Saya menangis
disaksikan oleh ketiga adik angkat saya dan mereka juga ikut menangis untuk
mengucapkan salam perpisahan. Saya kira perpisahan bukanlah sebuah akhir
melainkan sebagai tanda untuk bertemu kembali di lain waktu. Saya bertukar kontak
nomor telefon dan akun facebook
kepada adik saya untuk terus menjalin tali silaturahmi. Tak henti-hentinya
keluarga angkat saya berpesan agar saya harus mengunjungi mereka nanti karena
jarak rumah saya dengan rumah mereka tidak begitu jauh di mana saya bertempat
tinggal di Tanjung Priok dan mereka di Cilincing. Saat saya ingin pulang pun
Ibu Bayinah memberikan buah tangan berupa kerang kijing untuk saya dan keluarga
di rumah nanti. Ibu Bayinah, saya bersyukur menjadi bagian dari keluarga ibu.
Semoga tali silaturahmi kita terus terjalin sampai nanti.
Banyak
pelajaran yang saya dapatkan selama program live
in berlangsung. Saya belajar bahwa hidup ini penuh lika-liku, ada suka ada
duka, tetapi hal tersebut bukan menjadi penghalang buat saya untuk menjadi
pribadi yang kuat dan tangguh untuk menjalani hidup ini. Saya tak berhenti
bersyukur atas apa yang sudah tuhan berikan kepada saya. Saya pun sadar
ternyata hidup penuh kesulitan itu bukanlah suatu halangan untuk bahagia. Saya
juga mendapat pelajaran dari Yayasan Puteri Kasih bahwa apapun agamamu bukanlah
menjadi halangan untuk membantu sesama manusia terlepas dari perbedaan
keyakinan itu sendiri. Perbedaan yang ada justru dijadikan pelajaran bagi kita
untuk saling memahami dan menghormati satu sama lain. Saya bersyukur menjadi
bagian dari keluarga Bapak Oman dan Ibu Bayinah karena dari keluarga mereka
saya belajar untuk membantu sesama tanpa pamrih, memahami arti toleransi dari
masyarakat sekitar, dan saya pribadi merasa tergugah untuk terus ikut
berkontribusi pada masyarakat khususnya yang membutuhkan karena saya merasa
bahagia menolong sesama.
Saya juga bersyukur menjadi bagian
dari 30 besar finalis PPAN DKI Jakarta. Di mata saya, seluruh finalis PPAN DKI
Jakarta merupakan pemuda-pemudi pilihan dan terbaik dari Provinsi DKI Jakarta.
Sudah 6 minggu berturut rasanya saya habiskan bersama dengan kalian tanpa
henti. Walaupun dengan waktu yang singkat, tetapi saya merasa sudah mengenal
kalian lebih lama dari yang seharusnya. Dengan latar belakang yang berbeda-beda,
tidak menjadikan penghalang bagi kami untuk terus saling mengerti dan mengenal
satu sama lain. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak-kakak
senior PCMI DKI Jakarta yang turut serta membantu dan terus membimbing kami
selama proses seleksi berlangsung. Saya mendapatkan banyak pelajaran dari sini
terutama pelajaran akan arti hidup yang sebenarnya di program live in. Semoga pelajaran ini bisa
dijadikan bekal bagi saya di masa depan untuk terus berkarya dan berprestasi
sehingga bisa berguna bagi bangsa dan negara Indonesia.




































