Jumat, 12 Mei 2017

Secarik Kisah Dari Ujung Jakarta



Secarik Kisah Dari Ujung Jakarta


Perkenalkan, nama saya Adiestian Saputra. Saya merupakan salah satu dari 30 besar finalis Pertukaran Pemuda Antar Negara Provinsi DKI Jakarta (PPAN-DKI Jakarta) yang berasal dari Kotamadya Jakarta Utara. Sebagai salah satu finalis, saya berkesempatan untuk mengikuti program live in yang diadakan oleh Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi DKI Jakarta (PCMI-DKI Jakarta). Dari program tersebut, saya memiliki kisah yang unik dan menarik dari ujung kota Jakarta. Saya dan seluruh finalis PPAN DKI Jakarta mengikuti program tersebut di Yayasan Puteri Kasih “Rumah Kerang” yang berada di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, saya sendiri di tempatkan di daerah Kampung Nelayan yang tak jauh dari Rumah Kerang. Selama program berlangsung, saya dititipkan ke keluarga Bapak Oman dan Ibu Bayinah di istananya yang terletak tepat di pinggir laut bernama Gang Buntu. Program tersebut berlangsung dari tanggal 3 Mei 2017 s.d. 7 Mei 2017 dan selama 5 hari berturut-turut saya menjadi anak angkat dari Bapak Oman dan Bu Bayinah. 

Saya akan bercerita dimulai dari perkenalan anggota keluarga inti terlebih dahulu. Di rumah tempat tinggal orang tua angkat saya dihuni oleh 6 orang. Ayah angkat saya berprofesi adalah seorang nelayan kerang kijing dan profesi ibu angkat saya adalah seorang ibu rumah tangga yang merangkap menjadi pengupas kerang kijing. Di sana, saya diterima dengan sangat hangat seperti anak mereka sendiri sehingga terkadang saya hampir lupa kalau mereka adalah hanya sebagai orang tua angkat saya selama lima hari. Bapak Oman dan Ibu Bayinah memiliki 3 orang anak yang bernama Fatma, Dina, dan Azriel. Fatma merupakan putri pertama sedangkan Dina merupakan putri kedua. Azriel merupakan putra pertama sekaligus anak terakhir di keluarga angkat saya. Ada satu putri lagi yang belum disebutkan tetapi sebenarnya dia adalah anak dari adik perempuan Ibu Bayinah yang diurus oleh Ibu Bayinah dari sejak lahir yang bernama Syifa. Kedekatan Syifa dan Ibu Bayinah layaknya anak dan ibu kandung karena ibu kandungnya sendiri tidak mengurus Syifa secara langsung melainkan hanya mendukung secara finansial saja.



Walaupun status Syifa adalah sebagai keponakan dari Ibu Bayinah, tetapi Ibu Bayinah mengurus Syifa layaknya anak kandungnya sendiri dan tidak membeda-bedakannya dengan anaknya yang lain. Di rumah, ada satu orang lagi yang belum disebutkan yaitu Rahmad. Rahmad adalah kakak dari Syifa yang berumur 23 tahun dan berpofesi sebagai nelayan di mana membantu Bapak Oman melaut setiap hari. Rumah yang saya tinggali dibangun di atas reklamasi buatan warga setempat yang terbuat dari tumpukan kulit kerang kijing. Kulit kerang tersebut tidak dibuang ke TPA melainkan dibiarkan menumpuk sehingga menjadi lahan baru untuk dibangun permukiman tambahan. Rumah yang saya tempati terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur bawah, 1 dapur, 1 kamar mandi, dan 1 kamar tidur atas. Saya sendiri tidur di kamar tidur atas karena jika tidur di bawah hawanya terasa panas dan lembab. Rumah tersebut dibangun semi permanen di mana terbuat dari batako, kayu, dan bambu. Lingkungan yang saya tempati merupakan lingkungan padat penduduk tapi terasa tidak begitu padat karena memiliki sirkulasi yang baik dan jarak antar rumah yang cukup lega.



      
 Gang Buntu merupakan kawasan pinggir laut Kampung Nelayan yang bersebelahan dengan Krematorium umat Hindu dan Buddha. Hampir setiap hari ada orang yang beribadah untuk leluhurnya di pinggir laut Kampung Nelayan. Ada pula kapal kecil yang dipesan oleh salah satu umat Buddha yang dibuat oleh nelayan untuk keperluan melarung abu di Teluk Jakarta. Hidup di lingkungan sini penuh dengan toleransi dan saling mengerti antar umat beragama karena Kampung Nelayan sendiri merupakan tempat tinggal bagi mayoritas umat muslim. Saya memiliki tempat favorit untuk melepas penat selepas melaut bersama ayah angkat saya yaitu di pelataran Krematorium yang berada tak jauh dari tempat saya tinggal. Hawa siang hari di sana terasa begitu sejuk walaupun matahari nampak terik sehingga cocok untuk melepas penat sejenak sembari mengobrol untuk mengenal satu sama lain. Di tempat Krematorium pula menjadi titik bertemu saya dan seluruh teman-teman finalis untuk bercengkrama bersama anak-anak dari warga sekitar di waktu luang kami. Kami berbaur dengan warga sekitar dengan tujuan untuk mengenal pribadi antarsesama dan menjadi ajang untuk memahami kondisi mereka sehari-hari.
 

 
Kegiatan sehari-hari saya umumnya saya habiskan dengan keluarga angkat saya. Pada hari pertama, saya dikenali oleh tetangga sekitar oleh Ibu Bayinah. Tetangga sekitar saya ternyata adalah keluarga dari Ibu Bayinah juga. Salah satu teman saya, Firli, ternyata tinggal tak jauh dari saya. Ibu angkat Firli merupakan mertua dari Ibu Bayinah. Bisa dibilang, Firli merupakan keluarga saya juga karena status kami berdua masih dalam satu silsilah keluarga angkat yang sama. Hampir setiap hari saya ikut melaut bersama Bapak Oman. Profesi melaut yang dijalankan oleh ayah angkat saya telah dijalani selama bertahun-tahun dengan dibantu oleh keponakannya sendiri, Aa Rahmad. Di laut, saya ikut membantu ayah angkat saya dan keponakannya. Mulai dari mempersiapkan alat melaut, membantu mengangkat jaring, membersihkan kotoran yang menempel di kulit kerang kijing, hingga menimba air laut yang masuk ke dalam perahu kecil milik ayah angkat saya. Sebenarnya, Bapak Oman memiliki dua buah perahu yang satu berukuran sedang dan yang satu lagi berukuran kecil. Sayangnya, perahu yang berukuran sedang mengalami kerusakan di bagian mesin sehingga tidak bisa digunakan untuk melaut.

            Selama proses melaut, rata-rata kami mendapatkan 5-6 karung beras berukuran besar yang dipenuhi oleh kerang kijing. Tak jarang pula kami mendapatkan hasil laut lain berupa ikan, tiram, kepiting, dan lobster. Peralatan melaut milik ayah angkat saya terbilang sangat sederhana mulai dari kebutuhan makan untuk kami, solar 10 liter per hari, selang udara untuk menyelam, kacamata menyelam, jaring sebesar ember, dan tentunya alat untuk mencongkel kerang kijing yang menempel pada dinding-dinding kapal baik yang karam maupun yang telah lama parkir. Lama proses melaut ada di kisiran 5-6 jam. Umumnya, kami berangkat melaut pada pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul 13.00 WIB. Di laut, Bapak Angkat saya tak jarang membantu sesama nelayan apabila ada yang mengalami kendala. Kendala tersebut berupa mesin yang mati karena kehabisan bensin dan alat pancing yang terbawa oleh ikan-ikan berukuran sedang. Ayah angkat saya memiliki sifat mulia di mana dia selalu menolong orang tanpa pamrih dan rela untuk memberikan sedikit waktunya untuk membantu terhadap sesama. Saya juga mendapatkan pengetahuan yang selama ini tidak diberikan di sekolah yaitu pelajaran hidup yang diberikan oleh Bapak Oman dan Aa Rahmad selama proses melaut. Pengetahuan tersebut berupa kiat-kiat untuk memegang ikan yang benar agar tidak terkena racun, menangkap lobster, dan proses menangkap kerang kijing.



 
            Ada beberapa kegiatan yang dilakukan di atas perahu selama melaut. Kegiatan tersebut tak lain adalah menangkap kerang kijing, membersihkan kotoran yang menempel pada kulit kerang, memasukkannya ke dalam karung beras, dan membersihkan perahu seperti sedia kala. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan bertahap sesuai dengan pembagian tugasnya masing-masing. Selama melaut, saya terkadang mengalami kepanasan yang berlebihan sehingga memaksa saya untuk berteduh di kapal besar dengan cara meminta izin terlebih dahulu dan kemudian setelah diizinkan saya memanjat ke dek kapal dengan memijakan kaki pada ban bekas truk kontener. Ini merupakan pengalaman yang unik dan menarik yang saya lalui selama proses melaut. Bapak Oman melaut tak menentu melainkan pergi ke mana saja dia ingin mencari rezeki. Umumnya, Bapak Oman mencari disekitar kapal yang telah parkir lama dan kapal yang sudah karam. Di sana terdapat banyak kerang kijing yang mengalami proses panen alami dan siap untuk diambil. Dalam mencari kerang kijing bisa dibilang susah-susah-gampang karena untuk mendapatkan kerang kijing tersebut harus melalui proses menyelam. Apabila ada dan siap panen maka diambil dan apabila tidak ada ataupun kerang kijing masih berukuran kecil maka urung untuk diambil. 

            Kegiatan selepas melaut adalah mengupas kerang kijing yang mana telah ditunggu-tunggu oleh warga sekitar terutama kaum ibu-ibu dan anak perempuan. Proses mengupas kerang sendiri terbilang cukup sederhana karena dengan alat sederhana pula berupa cutter untuk membuka cangkangnya. Setelah dikupas, kerang tersebut dijual ke pasar ikan setempat dengan harga sekitar Rp15.000.00- per kilogram. Orang-orang yang membantu mengupas kerang kijing diberi upah sebesar Rp50.000.00- per hari jika memang yang dihasilkan berlimpah. Apabila hanya sedikit maka tak jarang mereka rela tak diberi upah. Sifat gotong-royong tersebut masih dilakukan oleh warga Kampung Nelayan dan patut dijadikan contoh bagi seluruh masyarakat Jakarta khususnya yang tinggal di pusat-pusat kota. Selain itu, kegiatan saya selepas melaut adalah bercengkrama dengan keluarga saya baik di rumah maupun di pelataran Krematorium. Banyak cerita yang dilontarkan oleh orang tua angkat saya. Canda, tawa, sedih, susah, senang, semua dicurahkan begitu saja bak air yang mengalir deras di sungai. Saya merasa sangat bersyukur ditempatkan di keluarga Bapak Oman dan Ibu Bayinah.



            Saya juga sangat dekat dengan adik-adik angkat saya. Tak jarang, saya bercanda dengan mereka dan bermain bersama-sama. Azriel, adik saya yang paling kecil, paling sering memainkan ponsel pintar milik saya. Sedangkan Fatma dan Dina juga suka memainkan ponsel pintar milik saya hanya untuk melihat foto-foto kegiatan saya. Dari foto-foto tersebut, saya memberikan berbagai macam wejangan untuk mereka bahwa jika mereka ingin seperti saya di kemudian hari maka mereka harus berjuang keras dengan cara rajin belajar dan sekolah setinggi-tingginya agar bisa mengangkat derajat keluarga. Mereka pun sangat antusias mendengarkan cerita-cerita saya berdasarkan foto-foto kegiatan saya seperti saat saya sedang berada di Jepang dalam rangka pertukaran pelajar. Saudara-saudari mereka pun turut serta dalam percakapan yang kami lakukan. Ada beberapa candaan yang masih saya ingat sampai sekarang seperti “Kakak dari Jepang ya? Aku juga abis dari Jepang, Jejeran Empang” atau seperti “Kakak, aku mau dong jadi kayak Kakak nanti kalo udah gede. Aku nggak mau ngupas kerang melulu kalo udah gede”. Candaan mereka mungkin terlihat sederhana, tapi saya merasa sangat terhibur dengan kekonyolan dan kepolosan mereka.


 Terdapat kegiatan lokakarya yang saya dan teman-teman kelompok 2 lakukan selama program live in berlangsung. Dalam kegiatan tersebut, kami membagi menjadi dua sesi di mana sesi pertama adalah “Mimpiku” dan sesi kedua adalah “Cilincing Masa Depan”. Target peserta dari kegiatan yang kami lakukan adalah remaja Cilincing yang duduk di bangku Menengah Atas. Dalam sesi “Mimpiku” bertujuan untuk mengetahui prioritas apa yang akan dilakukan dalam hidup selepas lulus dari sekolah sehingga bisa menggapai mimpi dan asa dari masing-masing individu. Sedangkan dalam sesi “Cilincing Masa Depan” bertujuan untuk lebih mengenal daerah mereka dan memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan dari Cilincing itu sendiri. Tujuan utama dilakukan kegiatan tersebut adalah untuk menentukan tujuan hidup, memfasilitasi untuk mencapainya, berkontribusi terhadap tempat tinggalnya, dan menumbuhkan rasa percaya diri kepada para remaja Cilincing bahwa mimpi mereka dapat diwujudkan apabila ada usaha yang dilakukan karena usaha tak pernah mengkhianati hasil.

            Dalam kegiatan lokakarya ini terjadi arus komunikasi 2 arah yang sangat efektif karena bukan hanya mereka yang dapat pembelajaran tetapi kami juga dapat memetik pelajaran dari mereka. Remaja Cilincing rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah dengan lingkungan yang terbilang cukup ekstrim dan berbahaya bagi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak. Tetapi, mereka kerap mensyukuri apapun kondisinya dan mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan yang keras tersebut. Tidak ada yang namanya kesedihan yang tergambar di raut wajah mereka selama proses berlangsung selain ekspresi senang dan gembira akan keberadaan kami. Ada momen yang membuat kami semua tersentuh di mana salah satu remaja laki-laki memberikan kesan dan pesan selama di akhir sesi. Dia menceritakan kisah hidupnya di mana orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya sehingga kakak dia terpaksa harus putus sekolah. Tetapi, berkat kemauan keras, tekad, dan keuletan yang ada di dirinya membuat dia bisa sekolah dengan menjadi anak asuh Suster Puteri Kasih.

            Dia bercerita bahwa dia menanggung beban hidup keluarganya sehingga dia harus bersekolah setinggi mungkin agar kelak bisa sukses dan bisa menghidupi keluarganya. Dia bercerita sambil menangis sesegukan yang sontak membuat kami terharu akan kejujuran yang dia ceritakan pada kita semua. Tak ada rasa penyeselan dan kesedihan akan hidupnya dalam rautnya selain rasa untuk berjuang hidup untuk keluarganya. Sungguh, pengalaman yang sangat berharga yang saya dapatkan selama menjadi mentor mereka. Semoga kelak mereka bisa menjadi orang yang sukses yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Semoga cerita yang dikisahkan oleh dia bisa menginspirasi bagi kami semua dan bagi pembaca kalau kita harus mensyukuri apapun yang tuhan berikan kepada hambanya. Saya pribadi bersyukur atas apa yang sudah tuhan berikan kepada saya hingga saya bisa hidup enak seperti ini, bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu, dan difasilitasi secara lengkap oleh orang tua saya sebagai bekal saya di masa depan.




Selama di rumah, tak jarang ada saudara angkat saya yang mendatangi saya untuk meminta diajarkan pekerjaan rumah yang dirasa sulit bagi mereka. Saya pun menjelaskan secara perlahan dan menggunakan metode yang mudah dimengerti oleh mereka. Saya menyadari bahwa mereka sebenarnya pintar-pintar. Terbukti saat saya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, ternyata mereka sebenarnya paham akan konsepnya namun belum memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mengembangkan potensi yang ada. Tak ada henti-hentinya saya memberikan apresiasi berupa kata-kata penggugah semangat belajar untuk mereka agar mereka terus terpacu dalam berkompetisi di dunia nyata. Mungkin kepercayaan diri adalah salah satu kekurangan yang ada di diri mereka. Mereka butuh lebih dari sekadar guru di sekolah. Mereka membutuhkan apresiasi sederhana berupa pujian atas hal kecil yang telah mereka lakukan. Dengan dipuji, hasrat keingintahuan mereka akan suatu hal menjadi menggebu-gebu dan mendorong mereka untuk terus rajin belajar. 

Pada saat hari terakhir, kami memberikan persembahan untuk orang tua angkat kami berupa Tari Kecak, Puisi, dan Paduan Suara dengan judul lagu “Ibu”. Sejujurnya saya merasa terharu atas apa yang dilakukan Ibu Bayinah terhadap saya. Dia memperlakukan saya seperti anaknya sendiri. Saat saya pulang agak larut untuk mengikuti sesi latihan di Rumah Kerang, saya dijemput oleh Aa Rahmad karena Ibu Bayinah khawatir akan keberadaan saya yang belum pulang ke rumah. Hal itu wajar mengingat pada hari pertama tak terlintas di pikiran saya untuk memberikan nomor telefon saya ke Ibu Bayinah. Pada hari-hari berikutnya pun tetap sama saya pulang agak larut sekitar pukul 22.00 WIB. Dia tak henti-hentinya menelpon saya dan mengirimkan saya pesan singkat “Kamu di mana? Jangan pulang malam-malam gak bagus buat kesehatan.” Atau seperti ini “Kalo pulang hati-hati ya kabarin Ibu. Kalo mau ke mana-mana juga wajib kabarin Ibu”. Ibu Bayinah juga mencuci baju saya. Saya tidak pernah meminta untuk mencucikan namun dia tiba-tiba mencuci baju saya saat saya sedang melaut. Saya kira ibu angkat teman-teman yang lain melakukan hal yang sama, ternyata tidak. 

Saya sempat mengunjungi Pulau Reklamasi yang terletak tak jauh dari tempat saya tinggal, Pulau F, di hari pertama saya. Saya mengunjungi pulau tersebut atas ajakan Ibu Bayinah. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan paling menarik karena tidak semua orang bisa menjelajahi pulau yang belum jadi seratus persen tersebut. Saat di akhir acara saya benar-benar meneteskan air mata di sesi “Peluk Ibu Angkat”. Air mata saya sangat pantas untuk dikeluarkan untuk Ibu Bayinah. Saya menangis disaksikan oleh ketiga adik angkat saya dan mereka juga ikut menangis untuk mengucapkan salam perpisahan. Saya kira perpisahan bukanlah sebuah akhir melainkan sebagai tanda untuk bertemu kembali di lain waktu. Saya bertukar kontak nomor telefon dan akun facebook kepada adik saya untuk terus menjalin tali silaturahmi. Tak henti-hentinya keluarga angkat saya berpesan agar saya harus mengunjungi mereka nanti karena jarak rumah saya dengan rumah mereka tidak begitu jauh di mana saya bertempat tinggal di Tanjung Priok dan mereka di Cilincing. Saat saya ingin pulang pun Ibu Bayinah memberikan buah tangan berupa kerang kijing untuk saya dan keluarga di rumah nanti. Ibu Bayinah, saya bersyukur menjadi bagian dari keluarga ibu. Semoga tali silaturahmi kita terus terjalin sampai nanti. 


Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama program live in berlangsung. Saya belajar bahwa hidup ini penuh lika-liku, ada suka ada duka, tetapi hal tersebut bukan menjadi penghalang buat saya untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh untuk menjalani hidup ini. Saya tak berhenti bersyukur atas apa yang sudah tuhan berikan kepada saya. Saya pun sadar ternyata hidup penuh kesulitan itu bukanlah suatu halangan untuk bahagia. Saya juga mendapat pelajaran dari Yayasan Puteri Kasih bahwa apapun agamamu bukanlah menjadi halangan untuk membantu sesama manusia terlepas dari perbedaan keyakinan itu sendiri. Perbedaan yang ada justru dijadikan pelajaran bagi kita untuk saling memahami dan menghormati satu sama lain. Saya bersyukur menjadi bagian dari keluarga Bapak Oman dan Ibu Bayinah karena dari keluarga mereka saya belajar untuk membantu sesama tanpa pamrih, memahami arti toleransi dari masyarakat sekitar, dan saya pribadi merasa tergugah untuk terus ikut berkontribusi pada masyarakat khususnya yang membutuhkan karena saya merasa bahagia menolong sesama. 

            Saya juga bersyukur menjadi bagian dari 30 besar finalis PPAN DKI Jakarta. Di mata saya, seluruh finalis PPAN DKI Jakarta merupakan pemuda-pemudi pilihan dan terbaik dari Provinsi DKI Jakarta. Sudah 6 minggu berturut rasanya saya habiskan bersama dengan kalian tanpa henti. Walaupun dengan waktu yang singkat, tetapi saya merasa sudah mengenal kalian lebih lama dari yang seharusnya. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, tidak menjadikan penghalang bagi kami untuk terus saling mengerti dan mengenal satu sama lain. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak-kakak senior PCMI DKI Jakarta yang turut serta membantu dan terus membimbing kami selama proses seleksi berlangsung. Saya mendapatkan banyak pelajaran dari sini terutama pelajaran akan arti hidup yang sebenarnya di program live in. Semoga pelajaran ini bisa dijadikan bekal bagi saya di masa depan untuk terus berkarya dan berprestasi sehingga bisa berguna bagi bangsa dan negara Indonesia.